Wagub Bali Cok Ace Resmikan Penggunaan Busana Adat Bali dan Bahasa Bali di Pura Besakih

Wagub Bali Cok Ace Resmikan Penggunaan Busana Adat Bali dan Bahasa Bali di Pura Besakih
Foto : Sembahyang bersama sekaligus acara peresmian penggunaan Busana Adat Bali dan Bahasa Bali, Kamis (11/10) di Pura Besakih.

Buletin Dewata, Karangasem.

Gubernur Bali yang diwakili Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati yang akrab disapa Cok Ace meresmikan penggunaan Busana Adat Bali dan Bahasa Bali di Pura Penataran Agung Besakih, Kamis (11/10). Hal ini Terkait dengan program Gubernur Bali, Wayan Koster yang mengeluarkan Instruksi Nomor 2331 Tahun 2018 Tentang Pelaksanaan Peraturan Gubernur Nomor 79 Tahun 2018 Tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

Acara peresmian di tingkat Provinsi yang dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih diawali dengan pementasan tari sakral Tari Rejang Renteng dan Tari Baris Kincang Kincung. Setelah itu dilanjutkan dengan pemakaian destar kepada Bendesa Adat Besakih, Jro Mangku Widiarta serta dua tokoh masyarakat yakni Prof. Made Surada dan Prof. I Nengah Duija oleh Wagub Bali Cok Ace, dan dilanjutkan dengan persembahyangan bersama yang dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Rai Pidada dari Griya Pasekan Klungkung.

Wagub Bali Cok Ace dalam sambutannya menyampaikan peresmian penggunaan Busana Adat Bali dan Bahasa Bali yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Bali merupakan kebijakan program prioritas dalam bidang adat, agama, tradisi, seni dan budaya sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, sebagai wujud komitmen serius pada upaya pemajuan kebudayaan Bali.

Menyikapi kondisi dewasa ini Wagub Cok Ace menilai penggunaan busana adat Bali khususnya di kalangan generasi muda agar sesuai dengan nilai kesopanan, kesantunan, kepatutan, dan kepantasan yang berlaku di masyarakat. Demikian pula halnya dengan keberadaan Bahasa Bali yang kurang diminati oleh para generasi muda sehingga dikhawatirkan kedepannya Bahasa Bali akan menjadi punah.

“Semakin sedikit sekarang generasi muda yang bisa Berbahasa Bali dengan baik yang sesuai dengan Sor Singgih, demikian pula dengan penggunaan busana adat Bali yang terkadang sudah tidak sesuai dengan pakem yang ada. Untuk itu mari kita kembali kepada pekem yang ada, kita lestarikan dan jaga busana adat dan bahasa Bali yang kita miliki, sebagai bentuk rasa memiliki dan tindih dalam memajukan adat, agama, tradisi, seni dan budaya Bali, ” ujar Cok Ace.

Sejalan dengan agenda peresmian ini sesuai dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 Tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali maka, Busana Adat Bali digunakan pada hari Kamis, hari Purnama, Tilem, hari jadi Provinsi Bali, dan hari jadi kabupaten/kota. Busana Adat Bali digunakan oleh pegawai di lingkungan lembaga pemerintah, pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, dan pegawai lembaga swasta.

Penggunaan Busana Adat Bali dikecualikan bagi pegawai lembaga pemerintah, lembaga swasta, dan tenaga profesional yang oleh karena tugasnya mengharuskan untuk menggunakan seragam khusus tertentu atau karena alasan keagamaan (sesuai pasal 8 poin 3 Pergub Nomor 79 Tahun 2018 Tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali).

Sedangkan bagi masyarakat adat Nusantara lainnya yang tinggal di wilayah Provinsi Bali dapat menggunakan Busana Adat Bali atau busana adat daerah masing-masing (sesuai pasal 8 poin 4 Pergub Nomor 79 Tahun 2018 Tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali).

Peresmian penggunaan Busana Adat Bali dan Bahasa Bali turut dihadiri oleh Ketua DPRD Bali I Nyoman Adi Wiryatama, Ketua Komisi IV DPRD Bali I Nyoman Parta, Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra beserta sejumlah kepala OPD di lingkungan Pemprov Bali. Rangkaian peresmian ditutup dengan Tari Rejang Giri Kusuma.(rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *